Cari Apa

Tuesday, December 26, 2017

Kisah Kesetaraan: Cahaya-Cahaya dari Negeri Kahayya


“Orang-orang kahayya boleh saja tinggal di kampung, asal jangan berpikiran kampungan. Begitu pula bapak-bapaknya boleh saja pakai sarung, tapi anaknya harus sarjana.” — Djunaidi Abdillah (Asisten Administrasi Pembangunan Pemkab Bulukumba)
Suara anak-anak yang hendak ke sekolah membangunkanku pagi ini. Suhu dingin khas pegunungan mengajakku mendekap selimut selepas shalat subuh tadi. Asap mengepul dari arah dapur beriringan dengan aroma kopi robusta menjadi penghangat alami bagi penghuni rumah.

“minum ki’ de’.” Ajakan menikmati segelas kopi khas kahayya dari sang pemilik rumah.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk kami menghabiskan segelas kopi hangat tersebut. Rasa pahit kopi pekat dengan manisnya gula aren setidaknya menjadi kombinasi penyemangat pagi yang mantap.

***
Desa kahayya dan kopi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dimana, asal usul dari penamaan kahayya berasal dari bahasa lokal (Makassar konjo) kata kaha yang berarti kopi dan –yya yang menunjukkan tempat. Sehingga kita dapat mengartikan Kahayya sebagai tempat dimana kopi bisa ditemukan dengan mudah. Benar saja, Kopi merupakan komoditi andalan dari Desa Kahayya dengan jumlah penduduk sekitar 133 Kepala keluarga yang sebagian besar berprofesi sebagai petani. Sedangkan luas wilayah Desa Kahayya sendiri sekitar 1.468 hektar.

eksklusif, itulah sedikit gambaran tentang kahayya masa lalu. Stigma yang melekat pada masyarakat kahayya sebagai orang-orang  gunung, kini dapat dipatahkan dan dijembatani oleh mereka yang pada tulisan ini akan disebut sebagai cahaya. Iya, cahaya yang menerangi dalam kegelapan stigma.

Berikut cahaya-cahaya dari negeri kahayya,

Pak Abdul Rahman (Kepala Desa Kahayya)
Foto bersama pak abdul rahman

“saya mengajak masyarakat untuk giat menanam kopi di kebunnya, soalnya pemahaman mereka masih rendah tentang pentingnya menanam pohon. Nah, saat mereka hendak menanam kopi, mereka pasti akan menanam pohon pelindung kopi lebih dahulu.”—Abdul rahman

Pak abdul rahman, Salah seorang tokoh yang memperjuangkan terbentuknya desa Kahayya dari desa induk kindang. Saat bertemu, Beliau berkisah tentang kahayya masa lalu. Kahayya terbentuk menjadi sebuah desa tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Zaman dulu, kahayya hanyalah sebuah dusun yang jauh dikarenakan kondisi geografisnya. Jalan setapak dan jembatan bambu adalah fasilitas sederhana yang paling sering dijumpai saat ke kahayya. Perjuangan bertahun-tahun akhirnya pada tanggal 27 Desember 2011 desa Kahayya resmi menjadi sebuah desa, dan pada tahun 2012 dilaksanakan pemilihan kepala desa di Kahayya.

Ajakan beliau untuk mensosialisasikan pentingnya menjaga hutan, telah termuat pada quotes diatas. Beliau menambahkan bahwa sebenarnya ada banyak program-program yang ada dikepalanya untuk kemajuan Kahayya, diantaranya penganggaran air di perkebunan dan pembangunan gedung perpustakaan hutan yang berisi tentang pengetahuan umum jenis-jenis kayu dan tumbuhan yang ada di hutan.

Sungguh mulia rencana beliau kedepannya, semoga bisa terealisasi dan kita akan bertemu dengan desa Kahayya yang semakin keren.

Pak Marsan
foto bersama pak marsan

“Kami berinovasi dengan apa yang kami lihat di internet, PLTMH dan beragam produk hasil pertanian kami dapat dari sana.” – Pak Marsan

Tokoh yang satu ini adalah seorang ketua pemuda dan kelompok tani yang visioner. Pertemuan kami dengan beliau saat mengunjungi Tanjung Donggia. Tanjung Donggia adalah salah satu spot yang tidak boleh terlewat saat ke Kahayya. Hijaunya gunung dengan garis putih aliran sungai adalah pemandangan yang sangat eksotis.

Beliau berkisah bahwa sebelum tahun 2015, mereka memasarkan kopi hasil perkebunan mereka dalam bentuk gelondongan ke Malakaji, kemudian dari Malakaji diantar ke Makassar ataupun ke Toraja. Namun, selepas tahun 2015 hingga kini mereka sudah bisa memotong tali distribusinya dari petani tanpa melalui pedagang pengumpul dan pengusaha lagi. Mereka bisa memasarkannya langsung kepada konsumen, bahkan bisa melalui pesan online ke kahayya.com

Pembangkit listrik tenaga mikro hidro, adalah inovasi dalam penyediaan aliran listrik berskala masyarakat. Pada awalnya kami berpikiran bahwa aliran listrik yang masuk ke desa ini adalah bersumber dari PLN, ternyata dugaan kami salah. Listrik yang ada di desa ini bersumber dari tenaga turbin yang digerakkan oleh air. Lain lagi dengan inovasi kripik kacang buncis dan teh kopinya. Sangat khas dan tentunya bisa di dapatkan ketika berkunjung ke Kahayya.

Sulawesi Community Foundation (SCF)

“Kahayya, titisan kayangan yang jatuh ke bumi. Begitulah perumpamaan tanah yang indah dengan sumber daya alam yang memadai.”

Pilar masyarakat adat adalah salah satu dari lima pilar program peduli. Sulawesi community Foundation (SCF) adalah sebuah lembaga yang turut serta menjadi jembatan inklusi sosial. Meningkatkan awareness masyarakat dan membuka akses adalah salah satu tujuan dari program inklusi sosial ini.

SCF pada dasarnya telah membantu petani dari mengetahui bibit yang baik, pelatihan panen, pasca panen, hingga pemasaran hasil pertanian. Mempromosikan potensi desa kahayya hingga advokasi terkait HKM (pemanfaatan kawasan hutan hingga 35 tahun).

***
EKOLOGI VS EKONOMI
Beberapa tahun belakangan seringkali terdengar terkait dimana ekonomi meningkat maka ekologi bisa menurun. Begitu pula sebaliknya, ekologi meningkat makan ekonomi yang menurun. Nah, kali ini pernyataan itu bisa dipatahkan oleh desa Kahayya. Dimana program-program pembangunan akan tetap berbasis kepada lingkungan. Tahun 2018 nantinya sejumlah SKPD pemerintah kabupaten bulukumba akan bersinergi untuk meningkatkan akses dan fasilitas hingga terciptanya produk ekowisata yang bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat di desa kahayya.

***

Demikianlah kisah cahaya-cahaya dari negeri kahayya. Setidaknya setelah menulis ini rasa rindu akan semakin meningkat. Ayo, atur waktu ke kahayya yuk!
Continue Reading...