Cari Apa

Thursday, November 10, 2016

Titik cahaya dari pulau sebatik

Share it Please

Malam itu angin darat mengantarkannya berlabuh dari dermaga sei nyamuk. Puluhan perahu bertaruh dengan dinginnya malam dan kencangnya angin di perbatasan Malaysia. Mereka bermodalkan semangat dan kepercayaan pada Tuhan tentang rezeki yang akan di dapatkannya dari lautan nanti.

Anak dan Istri di rumah menanti sembari memohon kepada sang pencipta semoga orang yang dikasihi bisa pulang dengan selamat dan membawa hasil tangkapan yang banyak untuk mereka. Setiap hari, setiap malam, bermain bersama angin dan laut. Itulah sedikit gambaran siklus kehidupan nelayan di pulau sebatik.
***
Indonesia merupakan sebuah negara maritim, dimana jumlah lautannya lebih besar daripada daratannya. Hal ini menggambarkan bahwa banyak masyarakat Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada lautan. Jumlah pulau yang banyak hingga belasan ribu menjadi tantangan dalam pemerataan pembangunan disegala aspek. Energi listrik misalnya, masih adanya gap antara masyarakat kota dengan masyarakat pulau.

Berdasarkan data ketenagalistrikan sampai akhir tahun 2014, kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik di Indonesia mencapai 53.065,50 MW hal ini menandakan adanya peningkatan dari tahun sebelumnya yakni 50.898,51 MW, sehingga kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik di Indonesia mengalami kenaikan sebesar 2.166,99 MW atau 4,25%. Namun, jika disandingkan dengan Tiongkok, nilai ini masih jauh dari kata ideal yang sudah mencapai 1,3 Juta MW.
***
Saat itu saya mengunjungi pulau sebatik sebagai mahasiswa yang sementara melaksanakan pengabdian masyarakat. Berkunjung ke dermaga di pagi hari adalah rutinitas saya, menanti fajar menyongsong dan nelayan yang pulang dari melaut.

Bertemu dengan masyarakat pulau sebatik memiliki makna tersendiri bagi saya. Dimana bisa merasakan suasana pulang kampung di tanah bugis. Lebih dari setengah masyarakat di pulau sebatik merupakan suku bugis. Bahasa yang digunakan sehari-haripun bahasa bugis ataupun bahasa Indonesia dengan aksen melayu.

Sebut saja Pak Andi nama bapak yang saya temui saat itu. Beliau menggunakan bahasa bugis yang fasih untuk menjelaskan tentang pulau sebatik saat pertama kali dia datang. Pada tahun 1980an dia bersama pamannya meninggalkan tanah bugis kemudian merantau ke pulau entah berantah.

“saya tidak punya sedikitpun gambaran tentang pulau ini sebelumnya. Saya hanya mengikuti ajakan paman saya.” katanya.

Darah bugis yang mengalir dalam tubuhnya menjadikannya seorang pelaut yang handal. Katanya beliau Memilih nasib menjadi seorang nelayan karena dia percaya bahwa laut akan selalu memberikan kabar baik ke daratan. Hasil tangkap laut akan selalu ada untuk keluarganya. Filosofi yang sangat dalam.

Warung kopi dekat dermaga menjadi saksi perbincangan kami, beliau menceritakan banyak hal tentang pulau sebatik dan perubahan yang dirasakannya hingga saat ini. tahun 1980an dulu mereka hanya bisa melihat cahaya dari tawau Malaysia di malam hari. Alhamdulillah, saat ini masyarakat pulau sebatik juga bisa menikmatinya, bahkan membawa cahaya itu ke tengah lautan.
***
Pemadaman bergilir, masih sering terjadi. Bukan hanya di pulau sebatik, tapi juga seluruh Indonesia. Ini diakibatkan oleh cadangan energi yang kita miliki masih jauh dari kata ideal yakni 10% dari yang seharusnya 30%. Ini memberikan gambaran bahwa Indonesia masih krisis listrik.

Untuk menjawab tantangan krisis listrik tersebut, diberlakukannya pengembangan energi baru dan terbarukan yang berasal dari panas bumi, hydro, bio massa, tenaga surya, tenaga angin, dan bio-fuel. Berdasarkan RUPTL PLN 2016, maka proyeksi pembangkit energi baru dan terbarukan hingga tahun 2025 adalah pada tabel berikut ini.
***
Pantang bagi seorang perantau untuk menolak ajakan sang kepala kampung. Dengan sigap saya menerima ajakan pak Andi untuk bersantap siang di rumahnya. Kebetulan dari pagi perutku hanya diisi dengan sepotong roti dan segelas teh hangat.

Rumah Pak Andi tidak begitu jauh dari dermaga, hanya sepelemparan bola kasti. Makan siang yang begitu nikmat, sekali lagi saya mengatakan bahwa saya merasa pulang kampung. Pulang ke tanah bugis.
Apa yang saya lihat di rumah Pak Andi, benar-benar membuat mata saya semakin cinta pada Indonesia. Beragam peralatan rumah tangga seperti ricecooker, dispenser, kulkas, televisi, dvd, kipas angin, dan speaker bass menyapa dengan tersenyum di sudut-sudut rumah. Dengan beragamnya alat elektronik ini menandakan mereka tidak kesulitan dalam mengakses listrik.
***
Pulau sebatik mulai bisa menikmati listrik selama 24 jam dalam seharinya tanpa pemadaman. Setelah digalakkannya kabel bawah laut yang menghubungkan sembakung di daratan Kalimantan utara menuju nunukan dan terus ke pulau sebatik.

Pulau sebatik yang merupakan beranda terdepan NKRI sudah seyogyanya bisa menjadi role model untuk perubahan pulau-pulau lainnya di tanah air. Ada ribuan pulau-pulau yang mungkin nasibnya masih jauh dari pada sebatik. Namun setidaknya kabar tentang kabel bawah laut sudah menjadi gambaran kebahagiaan di masa depan tentunya.

Saya akan mengutip sedikit tulisan Pak Dahlan Iskan disini. Yakni “jangan mau jadi ban belakang”. Nanti cepat gundul. Mengapa ban belakang cepat gundul? Secara bergurau beliau mengemukakan, ban belakang itu cepat gundul karena mikir terus bagaimana cara bisa mengejar ban depan! Intinya PLN harus jadi ban depan! Jangan sampai kesibukan utamanya terus-menerus memikirkan krisis listrik. Jadilah ban depan. Listrik harus terus ditambah. Mengimbangi naiknya permintaan listrik dari masyarakat.
***
Suatu ketika saya diajak Pak Andi untuk ikut bersamanya malam itu menangkap ikan di bagang. Bagang adalah tempat dimana ikan berkumpul karena diterangi oleh cahaya lampu. Disana saya menjadi saksi bahwa apa yang bapak Pak Andi katakan diawal perjumpaanku di warung kopi itu benar adanya. Saya melihat bagaimana cahaya neon benar-benar mengisi keheningan malam di tengah laut perbatasan.

Nelayan kini merasa bahagia karena sekarang setidaknya sudah dapat menikmati kemudahan dengan listrik. Termasuk bapak Pak Andi yang merasakan banyak kemudahan dalam melakukan aktivitas tangkap ikannya. Mulai dari penerangan dimalam hari, es untuk mendinginkan ikan dengan mudahnya dapat ditemukan di daratan, penjualan ikan dapat dilakukan dengan alat telekomunikasi memadai. Hingga saya pun berpikir, mungkin suatu saat nanti perahu-perahu nelayan hanya di charge dengan energi listrik disiang hari kemudian mereka bisa berlayar semalaman.

Sekian dulu, pembahasan kita tentang Listrik di Pulau perbatasan. Semoga banyak nilai yang bisa kita dapatkan.

Makassar, 10 November 2016

Sumber data:
Statistik ketenagalistrikan 2015
RUPTL PLN 2016-2025


No comments:

Post a Comment