Cari Apa

Wednesday, June 15, 2016

3 Langkah Menjadi Anak Muda yang Peduli Lingkungan dan Kelestarian Alam

Share it Please
Credit

“Orang-orang di Amerika Serikat tidak mencemari lingkungan sebagian karena takut didenda. Orang-orang di Bhutan tidak mencemari lingkungan karena mereka takut kepada dewata rumah kaca.” ― Eric Weiner, The Geography of Bliss: One Grump's Search for the Happiest Places in the World

Halo Teman Muda, kali ini kita akan berbagi tentang bagaimana peran kita sebagai calon penerus estafet pembangunan bangsa. Sudah terpikirkan belum kita nantinya seperti apa, dan bangsa ini akan menjadi apa? Hmmm. belum tahu? Nah, sejatinya kita sebagai generasi masa depan bangsa harus mengetahui gambaran kita kedepannya dan seperti apa bangsa kita ini. Kita akan memiliki peran seperti apa dalam pembangunan bangsa 5-30 tahun kedepan. Untuk itu, sejak dini kita membiasakan diri peka terhadap masalah-masalah yang ada disekitar kita.

Lingkungan merupakan isu klasik yang sejak dulu dibahas dalam pertemuan para petinggi Negara tentang global warming, begitu pula tajuk opini di Koran oleh praktisi dan akademisi, kajian koridor kampus oleh aktivis cinta lingkungan, hingga aksi kantong plastik berbayar di minimarket. Lalu, kita sebagai anak muda sudah bukan lagi hanya berpangku tangan dan menjadi penonton untuk semua itu. Kita seharusnya menjadi agen perubah dan penyampai kepada masyarakat umum tentang pentingnya peduli lingkungan dan kelestarian alam.

Lalu, kita harus berbuat apa? Hmm. Berikut kita akan menyampaikan langkah-langkah menjadi anak muda yang peduli lingkungan dan kelestarian alam, diantaranya;

Cari Tahu

Ini merupakan langkah dasar yang harus kita tempuh untuk melihat sejauh mana permasalahan lingkungan saat ini. Mencari bahan bacaan yang benar-benar terpercaya misalnya dari internet, buku-buku tentang lingkungan, acara talkshow di radio dan televisi, dan sebagainya. Kalau bersumber dari internet, kita juga harus menyeleksi artikel yang kita baca. Sumbernya harus jelas, misalnya website resmi kementerian lingkungan hidup, lembaga pemerhati lingkungan, dan sebagainya. Tujuannya untuk memperkaya ilmu kita tentang lingkungan, jangan sampai kita hanya menjadi orang-orang yang menyuarakan lingkungan tapi tidak tahu apa yang dimaksud dengan lingkungan. Sungguh miris bukan?

Pahami

Setelah survive dengan ilmu tentang lingkungan, kita harus memahaminya lebih dalam lagi. Setidaknya proses mencari tahu sebelumnya telah berkembang untuk belajar memahami apa yang salah selama ini. Misalnya di lingkungan sekolah kita, masih banyaknya sampah yang berserakan. Padahal setiap pagi, Cleaning Service membersihkannya.

Nah, kita harus memahami ada banyak faktor penyebab kenapa bisa masih banyak sampah berserakan. Misalnya, banyak teman-teman kelas yang tidak mau membuang sampah pada tempatnya karena belum mencintai lingkungan. Atau karena tidak adanya tempat sampah yang disediakan oleh sekolah, jadinya teman-teman kelas membuangnya di sembarang tempat.

Lakukan

Setelah memahami faktor penyebab tersebut, kita harus melakukan aksi nyata. Karena tanpa aksi nyata, kepedulian kita pada lingkungan sama saja nihil. Untuk itu segera lakukan beberapa aksi sederhana yang mampu kita lakukan bersama teman-teman sekitar kita. Misalnya, di sekolah diadakan lomba kebersihan antar kelas untuk memberikan sebuah penghargaan pada kelas yang peduli kebersihan. Atau lomba daur ulang sampah untuk melihat kreatifitas dalam mengolah sampah menjadi barang berharga.

Kembali lagi pada quotes pembuka diatas, jika “orang-orang Amerika Serikat tidak mencemari lingkungan sebagian karena takut didenda. Orang-orang di Bhutan tidak mencemari lingkungan karena mereka takut kepada dewata rumah kaca.” Saya rasa anak muda Indonesia tidak takut pada siapa-siapa karena kita memang sudah mencintai lingkungan dan pelestarian alam sejak saat ini.

Ada banyak masalah pada anak muda, ada bayak solusi dari anak muda. Nantikan artikel selanjutnya yah. Untuk lebih jelasnya tentang kependudukan bisa klik ini.

No comments:

Post a Comment