Cari Apa

Tuesday, April 26, 2016

Kado Untuk KPI: 7 tahun menyuarakan Budaya ilmiah di kampus merah

Share it Please
Credit

“Hanya ada 2 jenis anak muda di dunia. Mereka yang menuntut perubahan.Mereka yang menciptakan perubahan. Silakan pilih perjuanganmu.” ― Pandji PragiwaksonoNASIONAL.IS.ME


Halo apa kabarnya KPI tercinta saat ini? Semoga makin jaya tentunya dan para KPIers nya makin hebat-hebat. (KPIers itu istilah untuk anggota KPI. Eh itu sih dulu gak tau sekarang, masih pakai istilah itu apa udah ganti. Tapi ditulisan kita kali ini masih pake KPIers yah).

Selamat ulang tahun yang ke 7. Maaf selama prosesi perayaan yang berlangsung seminggu itu belum sempat hadir. Itu karena ada tanggung jawab di tempat lain tentunya, pokoknya salut deh sama perayaan yang luar biasa itu. Kali ini mungkin tidak ada kado, kue, bunga, atau apapun itu. Mungkin tulisan ini cukupkan? Eh.. walaupun tulisannya biasa aja sih.

***

Kali ini kita akan kembali ke masa tujuh tahun yang lalu, saat pendiri KPI mulai menyusun rencana pembetukan UKM ini. Saya belum tahu betul motif pendiriannya selain menjadi wadah pengembangan budaya ilmiah di kampus Unhas. Iya sisa kalimat itu yang masih mengalir dialam bawah sadar saya semenjak demisioner jadi dewan konsultatif beberepa tahun yang lalu.

Mungkin sedikit dari kita yang sadar tentang mengapa kita menjadi KPIers. Iya termasuk saya, mantan pengurus di KPI masih bertanya-tanya tentang itu. Apa yang menjadi dasar saya menjadi KPIers dulunya?

Ingin menang lomba? Ah itu karena memang udah punya skill dari dulu saja.

Ingin jalan-jalan? Hmm itu terlalu egois untuk gabung di organisasi.

Ingin cari pengalaman? Oh yah. Bukannya di tempat lain juga bisa.

Ingin belajar? Yakin KPI bisa mengajarkanmu lebih baik.

Ingin mengemban budaya ilmiah? Ah itupun masih terlalu teoritis.


Tapi setidaknya beragam tujuan-tujuan tersebut ada disetiap alasan KPIers mengisi formulir pendaftaran. Tapi saya percaya akan satu kemungkinan bahwa jauh sebelum kita masuk di Unhas, Tuhan telah menitipkan nama kita didalam lembaran orang-orang yang akan mengemban budaya ilmiah itu.

***

“Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu.”
― John F. Kennedy

Andaikan Negara itu adalah organisasi. Maka quotes ini mengajarkan kita tentang rasa cinta terhadap organisasi (sense of belonging). Tapi sebenarnya kita tidak bisa menjadi orang munafik, Jangan menjadi tumbal untuk organisasi. Ingat tujuan awal kita tergabung didalamnya. Sense of belonging akan bangkit dengan sendirinya, saat kita mulai nyaman dan bahagia berada di dalamnya. Mungkin saat setiap nafas dan gerak langkah kita selalu terpikirkan tentang KPI. Tahapan awal itu saat kita mulai merasa bahwa KPI sudah memberikan sesuatu kepada kita, maka kita juga harus memberikan sesuatu kepadanya.

Ingat kalau Unit kegiatan mahasiswa keilmuan dan penalaran ilmiah Universitas Hasanuddin (UKM KPI Unhas) adalah sebuah wadah bagi mahasiswa yang memiliki passion dibidang penulisan, penelitian, dan penalaran yang tentunya bersifat ilmiah. Ilmiah dalam hal ini artinya bisa dibuktikan dengan kebenaran bukan dengan manipulasi atau kebohongan. Hehe..

Kita kembali ke Budaya Ilmiah. Sebenarnya tujuan budaya ilmiah itu secara komprehensif seperti apa? Sampai saat ini saya hanya meyakini bahwa suatu saat peradaban dunia akan diisi dengan mereka orang-orang yang berilmu dan berakhlak baik. karena Ilmu tanpa akhlak baik laksana api tanpa kayu bakar. ilmu yang ada ibarat api. Lalu ingin mengambil dan memindahkan api itu kita butuh akhlak sebagai kayu bakarnya.

Jadi, untuk meraih cita-cita yang mulia ini pastinya tidak semudah menuliskan nama di kertas ujian. Tapi mungkin saja akan sesulit berbagai macam rumus kalkulus di lembar jawaban. Butuh proses belajar yang panjang dan tentunya pemahaman yang baik untuk menyelesaikannya. Begitulah pengandaian sederhana yang saya pahami tentang peradaban budaya ilmiah.

***

Nah. Ini salah satu yang saya dapatkan di KPI, Persaudaraan. Sense of belonging di organisasi mungkin tidak akan pudar, akan tetapi waktu yang memaksa kita untuk meniggalkannya karena butuh generasi baru. Rasa persaudaraan dan komunikasi yang baik akan tetap ada untuk orang-orang yang sudah merasakan suka duka bersama di dalam organisasi. Saya percaya bahwa ketegangan dan perselisihan paham saat rapat, marah dan ego saat saran di tolak, hingga rasa bahagia saat acara berlangsung sukses itu adalah kemenangan kita dalam berorganisasi. Satu kalimat ampuh yang selalu keluar dari mulut mereka saat ada masalah itu adalah all is well. 


Kalau foto ini, ternyata masih terselip di notebook sampai saat ini. Ini adalah bagian yang sangat sulit dilupakan selama di KPI. Menjadi sterring committee di kegiatan Inovasi 2013. Kegiatan yang sangat kekurangan resources, iya baik anggota yang aktif maupun dana. Harus meeting sama pengurus hingga larut malam, tidak pulang kampung saat lebaran (tapi lebaran bersama KPIers J), hingga sering nginap di sekretariat (kangen rumah hantu.. hehehe). Iya persiapannya selama tiga bulan, dan dibayar dengan acara sukses selama tiga hari. Alhamdulillah..

***

Ah.. tapi kalau saat ini KPI semakin sukses. Sangat berbeda dulu, saat kita mah apa atuh. Cuma organisasi baru yang belum dikenal sama siapa-siapa, kita hanya generasi gorengan, teh gelas, dan mimpi. Belum menjadi generasi Kopi, Buku, dan Aksi... Asiik (y)

Bangga saat lewat di pintu satu Unhas yang terpampang namanya adalah mereka Anak KPI lagi. Iya mereka yang selalu dinobatkan sebagai pahlawan Universitas Hasanuddin. Semoga semakin banyak Pahlawan-pahlawan Unhas yang lahir dari rahim KPI. Salam sukses untuk KPIers selalu…

Lalu hubungan quotes pembuka diatas dengan KPIers apa? Saya rasa KPIers bisa menjawab sendiri.

Makassar, 26 April 2016

No comments:

Post a Comment