Cari Apa

Wednesday, April 13, 2016

Jangan Tuntut Aku Jadi Konsumen Cerdas, Tapi Tuntun Aku Menjadikan Indonesia Pemenang MEA

Share it Please

“Hanya ada 2 jenis anak muda di dunia, Mereka yang menuntut perubahan, Mereka yang menciptakan perubahan, Silakan pilih perjuanganmu.” 
 Pandji Pragiwaksono, NASIONAL.IS.ME

Suara alarm handphone berbunyi dengan nyaringnya pagi ini. Di  tanggal 1 januari 2016, waktu dimana Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) mulai digulirkan. Ini bukanlah sebuah pertandingan olahraga, akan ada yang menonjol dan keluar sebagai pemenang. Namun intinya adalah bagaimana memaknai MEA sebagai sebuah momentum untuk lebih mencintai Indonesia secara menyeluruh.

Nasionalisme akan tumbuh secara natural saat kita merasa terancam dan terlecehkan oleh Negara lain. Beberapa waktu yang lalu saat ada rumor yang menyebar tentang klaim Negara lain pada budaya kita hampir seluruh masyarakat menentang dan merasa terancam akan hal itu. Begitu pula saat hasil laut kita di bajak oleh nelayan Negara lain, kita merasa bahwa hak kita telah diambil oleh mereka. Lalu apakah kita hanya akan terus merasa terancam dan mengatakan hak kita telah direbut oleh Negara lain? Mungkin ini saatnya kita melakukan aksi nyata untuk Indonesia tercinta.

Aksi nyata tidak menuntut kita untuk melakukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Aksi nyata adalah melakukan sesuatu yang mudah dan sesuai dengan kapasitas kita. Hal sederhana adalah dengan merasa bangga pada produk dalam negeri, itu saja. Saat nongkrong sama teman-teman merasa bahagia saat duduk di sofa café atau bangku kedai kopi lokal. Sebenarnya hanya sesederhana itu. Mudah bukan?

***

Terdengar suara alarm itu semakin nyaring  saja, kedengarannya ngotot memaksa aku untuk terbangun dan memulai hari-hariku di tahun baru ini. “Assalamualaikum MEA,” itu kata pertama yang keluar dari mulutku di tahun baru ini. Iya, aku tidak menyaksikan pesta kembang api semalam karena memilih untuk tidur lebih awal.

MEA menjadi momok yang sangat menakutkan untuk sebagian besar masyarakat Indonesia. Ketakutannya beralasan bahwa lapangan pekerjaan kita akan dirampas oleh mereka warga Negara asing yang datang dari luar negeri. Padahal sebenarnya itu bisa diatasi dengan peningkatan kapasitas kita sebagai bangsa Indonesia bukan?

***

Bergegaslah aku dari tempat tidur dan bersiap-siap ke bandara. Kedua orang tuaku baru saja pulang dari Singapura dan meminta aku untuk menjemput mereka dipagi ini. Sebenarnya aku masih mau menikmati liburan di awal tahun sambil bermalas-malasan dirumah, tapi yah kewajiban seorang anak. Selain karena masih numpang hidup di rumah orang tua juga harus melayani keduanya sembari berbakti.

Pagi itu bandara terasa lengang tidak sesibuk hari-hari biasanya, mungkin karena masih banyak yang menikmati hari libur. Kedua orang tuaku bukan pergi tahun baruan ke Negara singa itu, namun melakukan medical ceck up, kontrol kesehatan secara berkala. Aku juga sering merasa bingung sama mereka, jauh-jauh ke Singapura hanya untuk periksa kolesterol, gula darah, tekanan darah, asam urat, dan lainnya. Bukannya  di klinik dan puskesmas juga bisa.

Jawaban dari mereka sangat sederhana, katanya kualitas Dokter dan teknologinya yang lebih maju di Negara singa itu. Padahal sebenarnya, mungkin saja Dokter-dokter yang dari Indonesia juga yang mereka temui disana. Oke, ini perkara mutu dan kualitas. Jadi untuk menjadi tuan rumah di Negara sendiri , perihal mutu dan kualitas kita harus lebih baik dari  Negara lainnya.

***

Tidak butuh waktu lama aku menunggu mereka di terminal kedatangan, karena memang tadi berangkatnya agak telat dari rumah. Seperti biasanya mama datang dengan memborong barang-barang branded katanya, barangnya limited edition dan hanya beberapa barang sejenis ada di dunia ini. Padahal di Bandung, Cibaduyut juga banyak barang-barang limited edition dan kualitasnya oke. Iya ini hanya persoalan gengsi saja. Coba saja produk Indonesia memiliki gengsi, kan bisa menjadi tuan rumah di Negara sendiri.

Lalu bagaimana menjadikan Indonesia sebagai pemenang MEA?

Jawabannya adalah jadilah konsumen cerdas.

Semua barang tadi sudah aman di bagasi mobil, Mama duduk di belakang sedangkan Papa duduk di samping aku di depan sebagai supir.

“Gimana hasil pemeriksaan kesehatannya pa, ma? Baik kan?” Tanya aku

“iya, Alhamdulillah seperti yang kemarin-kemarin masih soal kolesterol papa dan tekanan darahnya mama yang tinggi.” Jawab papa

“gimana shoppingnya ma?” goda aku

“wuiss. Jangan ditanya, semua barang-barang branded itu diskon di akhir tahun loh. Mama senang bisa shopping akhir tahun.” Jawab mama dengan gregetan

“Mama dan Papa tahu gak, kalau tahun ini sudah masuk era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), artinya pintu-pintu ekonomi lintas negara di Asean dibuka selebar-lebarnya. Orang asing akan datang bekerja ke Indonesia dengan mudahnya untuk bekerja. Barang branded mama dengan mudahnya didapatkan di pasaran nantinya, itu akan bersaing dengan barang-barang dalam negeri. Kalau misalnya mama dan teman-teman mama memilih barang branded dan tidak mau membeli produk dalam negeri yang berkualitas itu. Bisa saja perusahaan dalam negeri akan gulung tikar dan dibeli oleh perusahaan-perusahaan asing. Bisa saja nantinya Indonesia dipenuhi produk-produk asing kalau kita tidak menggunakan produk kita sendiri. Jelas aku.

“Dokter-dokter pun begitu, mereka bisa masuk di Indonesia dengan mudah dan mungkin bekerja di beberapa klinik atau rumah sakit. Itu artinya memudahkan mama dan papa untuk melakukan pengecekan kesehatan. Tapi papa dan mama pernah berpikir tidak bagaimana nasib dokter-dokter Indonesia nantinya kalau orang-orang seperti mama dan papa tidak percaya pada kualitas mereka? Yah, bisa saja mereka akan tergusur oleh dokter asing itu.” tambahku.

Keduanya terheran-heran sambil tersenyum memandang aku,

“Anakku sudah besar, dan semakin cerdas saja. Kok, mama merasa bersalah yah sama dokter-dokter di Indonesia dan barang-barang buatan tangan Indonesia. Tapi setidaknya kita bisa mendapatkan kualitas yang  mampu bersaing dengan luar negeri.” Jawab mama.

“Bagaimana bisa tahu kualitasnya, kalau mama tidak pernah mencoba barangnya, coba aja dulu, pasti jatuh cinta dengan produk dalam negeri loh.” Kata aku menutup perbincangan di mobil.

Itulah alasan mengapa aku tidak mau dituntut untuk hanya menjadi konsumen cerdas. Sangat susah mengajak mereka yang sudah terlanjur menganggap remeh produk dalam negeri. Tapi coba angkat nasionalisme semuanya akan bergerak. Itu karena gengsi, Iya gengsi nasionalisme lebih menarik perhatian orang lebih besar. Dimana mereka akan melakukan apa saja untuk Indonesia termasuk menjadi konsumen cerdas itu tadi.

Adapun poin-poin konsumen cerdas terdiri dari,


Doc. Pribadi

A. Menegakkan hak dan kewajiban sebagai konsumen, kita seyogyanya sadar dan tahu akan hak dan kewajiban kita sebagai konsumen

Sumber: tribun jabar
Hak-Hak Konsumen:
1. Mendapatkan kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.
2. Memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa sesuai nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
3. Memperoleh informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barnag dan/atau jasa.
4.  Didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan.
5. Mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa secara patut.
6. Mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
7. Diperlakukan dan dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.
8. Mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian.

Kewajiban Konsumen:
1.  Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian barang dan/atau jasa.
2.  Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa.
3.  Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati.
4.  Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa secara patut.

B. Teliti Sebelum Membeli
Sumber: Kaskus
Seringkali kita melewatkan perihal ini, padahal ini adalah salah satu kunci sebagai konsumen cerdas. Biasanya pada saat diskon produk, sebagian besar orang akan kalap mata. Selalu mempunyai kebiasaan untuk teliti atas barang dan/atau jasa yang ditawarkan/tersedia di pasar, minimal secara kasat mata dapat digunakan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya dari barang dan/atau jasa tersebut, dan bila kurang jelas/paham, dapat bertanya atau memperoleh informasi atas barang dan/atau jasa tersebut. Berdasarkan hal ini, dapat diperoleh gambaran umum atas barang dan/ atau jasa yang ditawarkan di pasar.

C. Perhatikan Label dan Manual Garansi Berbahasa Indonesia
Sumber: kliknklik
Informasi dari produk yang kita beli seharusnya kita tahu lebih dalam lagi, biar merasa tidak tertipu saat membelinya. Konsumen harus lebih kritis untuk mengetahui kondisi barang dan/atau jasa, khususnya atas barang makanan, minuman, obat dan kosmetik, dalam keadaan terbungkus yang disertai label. Dalam label tersebut harus dicantumkan antara lain komposisi, manfaat, aturan pakai dan masa berlaku. Bila membeli produk telematika dan elektronika, maka harus dilengkapi dengan petunjuk penggunaan (manual) dan kartu jaminan garansi purna jual dalam Bahasa Indonesia.
D. Pastikan Produk Bertandar SNI
Sumeber: BSN
Pada dasarnya segala produk yang beredar dan diperjualkan di Indonesia itu memiliki standar tersendiri. Konsumen harus mulai akrab dengan produk bertanda SNI. Sudah saatnya konsumen memperhatikan produk yang sudah wajib Standar Nasional Indonesia (SNI). Produk bertanda SNI lebih memberikan jaminan kepastian atas kesehatan, kemanan dan keselamatan konsumen, bahkan lingkungannya (K3L).
 E. Jangan Abaikan Masa Kadaluarsa Produk

Sumber: Silanghati
Penjual kadang tidak meperhatikan masalah ini, baik disengaja atau tidak. Untuk itu dibutuhkan Perhatikan masa kadaluarsa agar berhati-hati terhadap barang yang masuk ke dalam tubuh atau yang digunakan di luar/atas tubuh karena barang tersebut sangat erat kaitannya dengan aspek kesehatan, keamanan dan keselamatan (K3L) konsumen.

F. Beli Sesuai Kebutuhan Bukan Keinginan

Doc. Pribadi
Setidaknya menjadi keluarga harapan Indonesia adalah bisa mempersiapkan sesuatu yang baik di masa depan. Budayakan perilaku tidak konsumtif, artinya bukan barang dan/atau jasa yang menguasai atau mempengaruhi konsumen, tetapi konsumenlah yang menguasai keinginannya untuk membeli barang dan/atau jasa.

G. Cintailah Produk Indonesia

Sumber: wikipedia
Mencintai Indonesia adalah propaganda yang paling mudah dalam mengambil hati setiap orang Indonesia. Karena itu kita harus tahu Produk buatan Indonesia saat ini sudah tidak kalah dengan produk impor, bahkan sudah banyak produk Indonesia yang go International. Dengan membeli produk asli Indonesia, ekonomi akan berputar di dalam negeri sehingga membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia itu sendiri.
Sesampainya di rumah, aku kembali ke kamar untuk menikmati liburan awal tahun ini. Mendengarkan musik dan membuat strategi bagaimana cara saya menjadikan Indonesia sebagai pemenang MEA. Ingat jumlah penduduk terbesar di asia tenggara itu ada di Indonesia, sekitar hampir 40% pangsa pasar MEA ada di Indonesia. Saat kita mampu minimal mempertahankan produk Negara kita sendiri, percaya saja Indonesia akan menjadi Pemenang MEA.

Sumber: ASEAN Selayang Pandang, Dirjen Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri
tahun 2012
Pemenang MEA adalah sebuah perumpamaan sederhana dalam mengangkat rasa gengsi Negara. Kembali lagi ke quotes pembuka artikel diatas bahwa. Kamu hanya punya dua pilihan sebagai anak muda, pertama kamu menuntut perubahan ataukah kedua kamu menciptakan perubahan.
Jadi kita bukan hanya menjadi konsumen cerdas, tapi kita harus memiliki aksi untuk Indonesia tercinta, menjadikan pemenang MEA.
untuk info lebih lanjut bisa mengunjungi: http://ditjenpktn.kemendag.go.id/
*Sumber Materi:
1. http://www.harkonas.id/
2. ASEAN Selayang Pandang, Edisi Ke-20, Tahun 2012 oleh Direktorar Jenderal Kerja SamaASEAN Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia 

** Artikel ini diikutkan dalam DJPKTN Lomba Karya Tulis Blog 2016

No comments:

Post a Comment