Cari Apa

Friday, June 15, 2012

Siri’ na pacce, soul of body sul-sel dalam pendidikan berkarakter paling Indonesia

Share it Please

 Apabila melakukan traveling atau perjalanan ke wilayah sulawesi selatan, pada dasarnya kita mengkerucutkan pola pikir pada bidang wisatanya saja. Dimana Pantai Losari, Tanjung bira, Tana toraja, Bantimurung, bahkan coto makassar sekalipun menjadi bagian yang menarik. Akan tetapi, itu merupakan hal yang sangat biasa ditemukan. Ada hal yang Istimewa dari sulawesi selatan ini, dimana memiliki budaya yang paling Indonesia yakni Siri’ na Pacce.  
            Pada dasarnya, Siri na pacce adalah dua unsur suku  kata yang menjadi  filosofi dasar atau the way of life dalam kehidupan sehari-hari  masyarakat Bugis-Makassar. Dua suku kata ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain, dan mempunyai hubungan yang sangat mendalam. Jika dipisahkan, secara personal masyarakat akan mengalami lost imagine. Hubunganya bisa seperti penyebab dan akibat.  Jika kita mengartikannya dalam bahasa Indonesia mungkin akan mendekati kata “malu, harga diri”, atau “usaha yang kuat”. Jika pada sastra melayu dia lebih mendekati kata “marwah”untuk kata “siri’”, dan “pacce” lebih mendekati kata “tanggungjawab, sanggup memikul rasa pahit, pantang lari atau mengundurkan diri, berani mengambil risiko.
      Budaya siri’ na pacce ini juga dikenal di wilayah Indonesia lainnya, seperti  wirang  yang hidup di masyarakat suku Jawa, carok pada masyarakat suku Madura,  pantang pada masyarakat suku di Sumatera Barat, serta jenga pada masyarakat suku di pulau Bali. Semua konsep pandangan hidup yang berkembang dari nilai-nilai luhur ini memiliki kebermaknaan yang sama yaitu tentang semangat serta keberanian tanpa melupakan rasa lembut hati sebagai penyeimbangnya. Sehingga bukan hal yang sulit apabila nilai-nilai siri’ na pacce dikembangkan dan diterapkan di Indonesia, karena memang paling Indoensia.
      Adapun latar belakang saya mengangkat Nilai siri’ na Pacce untuk dijadikan sebagai moratorium dalam pendidikan berkarakter paling Indonesia adalah dengan melihat keadaan Indonesia saat ini. Yakni, jumlah penduduk di Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini mencapai 237.440.363 jiwa (BPS, 2010). Namun, ternyata jumlah penduduk yang banyak tidak menghasilkan dan membawa Indonesia menjadi negara makmur. Berdasarkan indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia saja hingga akhir tahun 2011 belum begitu menggembirakan. Bahkan, dari data terbaru yang dikeluarkan United Nation Development Program (UNDP), IPM Indonesia berada di peringkat 124 dunia dari 184 negara. Bahkan Negara tetangga seperti Malaysia saja jauh diatas lebih makmur dari Negara  kita. Hal ini salah satunya dikarenakan rendahnya mutu sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki.
Apabila berbicara tentang  mutu sumber daya manusia yang dimiliki Negara Indonesia maka kita akan mengarahkan kiblat berfikir pada arah karakter dari bangsa Indonesia Itu sendiri. Serta bila kita merujuk pada Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dimana mengamanatkan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup dari bangsa Indonesia yang harus dijiwai dan diaplikasikan pada semua bidang pembangunan. Dimana  salah satu bidang pembangunan nasional yang sangat penting dan menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara adalah pembangunan karakter bangsa.
Masalah karakter bangsa kini menjadi berita hangat dalam masyarakat. Kehangatan berita  itu mengenai berbagai aspek kehidupan, yang dibahasakan  dalam berbagai tulisan di media cetak, dan diberitakan pada media elektronik. Masalah masalah yang muncul dalam masyarakat seperti tabrak lari, korupsi, bentrok antara mahasiswa,  kekerasan dalam rumah tangga, perampokan, Premanisme, konflik massa, pergulatan politik, ekonomi masyarakat yang tidak menunjukkan kesejahteraan, dan sebagainya menjadi topik pembahasan. Salah satu pendorong hilangnya atau memudarnya karakter (value) bangsa Indonesia adalah dengan masuknya pengaruh globalisasi. Dimana globalisasi ini menjadi agent shock bagi Bangsa Indonesia yang mampu membanting rasa   keindonesiaan dan mendobrak pertahanan nilai-nilai kearifan lokal. Sehingga, apabila tidak dilakukan Filterisasi terhadap peradaban globalisasi ini maka akan tercipta karakter bangsa yang lemah dan tidak tanggap terhadap permasalahan bangsa.
Salah satu kesalahan kaprah atau faham dari bangsa Indonesia adalah tidak melihat sisi baik maupun buruk dari arus globalisasi itu. Mereka langsung saja menelan mentah-mentah hal yang belum mereka tahu bagaimana bentuk dan rasa dari itu semua. Sebagai contoh yang baru-baru saja terjadi, para muda – mudi bangsa Indonesia merayakan Hari Valentine, 14 Februari lebih ramai dan menggelar pesta yang bermewah-mewahan. Dibanding pada perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia atau 17an Paling Indonesia saja tidak ada satupun yang menggelar pesta bersama ataupun hadir pada upacara bendera dengan alasan berbagai macam mulai dari  kepanasan, tidak mau keringatan, dan sebagainya.
            Dimana diketahui disini bahwa, Karakter dari suatu bangsa, sangat dipengaruhi oleh bagaimana bangsa itu menjaga dan melindungi nilai-nilai yang ada pada budaya ibu mereka. sehingga, diperlukan berbagai macam strategi dalam pembangunan karakter. Sangat perlu digaris bawahi, bahwa menerapkan pendidikan karakter tanpa disisipkan dengan nilai-nilai kearifan lokal, hasilnya tidaklah begitu maksimal. Dikarenakan dalam proses pendidikan, mereka yang dididik dalam lingkungan budayanya sendiri akan lebih mudah  memahami dan dapat menerapkannya langsung di lingkungan itu. Nilai-nilai siri’ na pacce misalnya, dimana kita ketahui bahwa nilai siri’ na pacce merupakan nilai dasar dari masyarakat Bugis-Makassar. Siri’ na pacce ini mengandung makna yang sangat dalam, dimana dimaksudkan disini bahwa setiap orang akan memegang teguh rasa malu dalam  hal positif. Seperti, siri’ apabila melakukan plagiat, mencuri, berdusta, dan tindak kejahatan lainnya. Serta mampu menumbuhkan rasa solidaritas, maksudnya disini adalah solidaritas yang diterapkan dengan tidak memandang bulu, tidak memandang suku maupun ras bahkan agama. Untuk itu, sangatlah diperlukan sebuah terobosan baru. Dimana terobosan itu mengkombinasikan antara nilai-nilai siri’ na pacce dengan konteks makro pendidikan karakter yang telah ada sebelumnya.
      Salah satu contoh dalam pendidikan misalnya, menyontek saat ujian. Seharusnya mahasiswa atau pelajar merasa siri’ sehingga adanya rasa takut untuk bersalah dengan demikian pengukuran tingkat kesuksesan pendidikan juga semakin  tinggi. Ataupun, plagiatisme bagi penulis dan peneliti, mereka harus menjaga nilai-nilai siri’ tersebut, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan dengan keadaan itu. Atau bahkan kasus besar di  Indonesia ini yakni kasus korupsi, dimana apabila mereka memegang teguh rasa Siri’  maka bukanlah hal yang susah lagi untuk menjauhkan diri dari penyakit masyarakat tersebut. Dan merasa pacce apabila kita melihat penderitaan teman, kerabat, maupun orang lainnya. Dengan demikian, akan muncul rasa takut untuk berbuat salah, dan nilai persaudaraan semakin erat.
      Dengan demikian, Indonesia butuh sebuah terobosan baru dalam membangun karakter dan jati diri bangsa ini. Dengan mengangkat nilai-nilai original budaya bangsa sendiri melalui nilai-nilai filosofis siri’ na pacce. Oleh karena itu,  melalui tulisan ini diharapkan akan menjadi bomerang dan pendobrak pintu realitas saat ini. Semoga tulisan ini bermanfaat, dan memperkaya imajinasi dan memberikan senyuman saat ini dan suatu saat nanti untuk Indonesia paling Indonesia. Siri’ na pacce, soul of body sul-sel dalam pendidikan berkarakter paling Indonesia.

3 comments: