Cari Apa

Friday, April 15, 2011

KORAN DI BALIK MIMPI MAHASISWA

Share it Please



          “Caiya caiya caiya caiya calacaiya caiya caiya caiya caiya.” adalah Sebuah lirik lagu yang cukup terkenal belakangan ini. Tapi dibalik semua itu ada media yang melatarbelakangi hingga dapat masuk ke lapisan masyarakat. Salah satu medianya adalah Koran. Setiap pagi Koran disebar kemana-mana dari percetakan ke seluruh penjuru Indonesia ini. Minat baca masyarakat terhadap Koran pun masih menjadi peringkat pertama dibanding media cetak lainnya. Alasan utamanya karena Koran harganya murah dan mampu dicapai seluruh lapisan masyarakat. Tapi bagaimana seharusnya materi Koran itu? Yang paling utama adalah hasil pemikiran kaum-kaum intelek.
Sebagai kaum intelek mahasiswa dituntut agar mampu beropini di Koran karena mahasiswa memiliki fungsi sebagai:
1. Agent of Change, dimana Mahasiswa adalah salah satu harapan suatu bangsa agar bisa berubah ke arah lebih baik. hal ini dikarenakan mahasiswa dianggap memiliki intelek yang cukup bagus dan kematangan berpikir yang cukup luwes.
2.Iron Stock, dimana Mahasiswa adalah generasi penerus bangsa untuk mengganti atau memperkuat generasi yang sudah tua.
3.Moral Force, dimana Mahasiswa harus punya moral yang baik agar bisa merubah bangsa ke arah lebih baik dan juga harus bisa merubah ke arah yang lebih baik jika moral bangsa sudah sangat buruk. baik melalui kritik secara diplomatis ataupun aksi.
4.Social Kontrol, dimana Mahasiswa diupayakan agar mampu mengkritik,memberi saran dan memberi solusi jika keadaan sosial bangsa sudah tidak sesuai dengan cita-cita dan tujuan bangsa.

          Dimana pada masa lalu, Mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tanggal 25 Oktober 1966 yang merupakan hasil kesepakatan sejumlah organisasi yang berhasil dipertemukan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) Mayjen dr. Syarief Thayeb, yakni PMKRI, HMI,PMII,Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Lokal (SOMAL), Mahasiswa Pancasila (Mapancas), dan Ikatan Pers Mahasiswa. Ikatan pers mahasiswa inilah yang memberikan sumbangsi kepada mahasiswa dalam beropini di Koran-koran.
Amat menyenangkan ketika apa yang kita fikirkan dapat dituangkan dalam bentuk tulisan dan dibaca banyak orang. Apalagi jika tulisan itu mampu dibaca secara meluas dan memberikan dampak, meski hanya sedikit, kepada masyarakat. Lebih khusus bagi para mahasiswa, sikap kritis atas berbagai fenomena di sekitar sudah menjadi "kewajiban" yang tak dapat dilepaskan. Sebagai agent of change, mahasiswa harus dapat mengutarakan pendapatnya secara terbuka dengan perspektif objektif yang selalu berpihak pada rakyat. Cara terbaik untuk mahasiswa dalam mengungkapkan pemikiran kritisnya adalah melalui tulisan. Esei opini menjadi sebuah media paling efektif untuk ini. Cukup dua sampai tiga halaman, bahasa populer yang mudah dipahami, dan perspektif yang menarik jadi kelebihan dari esei opini.
Tapi dibalik semua itu mahasiswa memiliki zaman yang berfluktuatif, kadang diatas kadang menengah bahkan dititik terbawah sekalipun. pada zaman dahulu Perilaku Kolektif Mahasiswa dalam Reformasi 1998 Tahun 1998 menjadi satu catatan tersendiri dalam sejarah perubahan di Indonesia. Dilatarbelakangi krisis ekonomi yang berkepanjangan dan berlanjut menjadi krisis multi-dimensi, sebuah usaha perubahan sosial yang dimotori oleh gerakan mahasiswa yang didukung oleh kesadaran bersama dari para mahasiswa. Keadaan ini kemudian berkembang menjadi suatu gerakan bersama yang menuntut perubahan dibeberapa bidang, khususnya system pemerintahan Pertanyaan berikutnya, bagaimana mahasiswa dapat melakukan sebuah gerakan reformasi dalam usaha perubahan sosial? Apakah dengan serta-merta gerakan mahasiswa terbangun? Dalam sosiologi, perilaku kolektif adalah tindakan-tindakan yang tidak terstruktur dan spontan dimana perilaku konvensional (lama) sudah tidak dirasakan tepat atau efektif.
               Gerakan mahasiswa pada tahun 1998-tepatnya bulan Mei-cenderung pada perilaku kerumunan aksi dimana aksi demonstrasi mereka lakukan secara terus menerus dengan mengandalkan mobilisasi massa demi tujuan bersama. Tuntutan gerakan mahasiswa sendiri pada pasca kejatuhan masa Orde Baru cenderung pada perubahan sistem politik dan struktur pemerintahan. Sehingga Mahasiswa dikala itu sangat agresif terhadap pemberitaan terhadap media massa.
pada Zaman modern ini Menjalani 66 tahun usia kemerdekaan bangsa Indonesia masih bergelut dengan berbagai persoalan yang bermuara pada krisis moral dan ketimpangan sosial. Bangsa yang berbobot adalah bangsa yang mampu mempertahankan kepribadian serta sanggup mengevaluasi nila-nilai luhur warisan nenek moyangnya untuk dilestarikan dan dikembangkan selaras dengan proses kemajuan zaman yang selanjutnya dipersiapkan sebagai bekal hidup bagi generasi penerus dalam mempertahankan eksistensi dan martabat bangsanya. Krisis budaya menghantui bangsa kita, kesenjangan antara kesadaran dan perilaku. Akhir-akhir ini kita melihat bahwa kesadaran kemanusiaan mengalami penurunan. Kekerasan, kebrutalan dan sadisme terus terjadi, sepertinya kita tak kuasa menghentikannya. Kita yang sebagai Mahasiswa  sedang sibuk dengan melukai diri sendiri, seremoni menuju penghancuran kemanusiaan. Kita percaya bahwa waktu akan menyembuhkan luka-luka. Akan tetapi kitapun harus berbuat sesuatu agar penyembuhan itu benar-benar terjadi. Layaknya Mahasiswa bangkit untuk mencapai kesuksesan pemerintahan. Karena pemerintahan masa dapan asalnya dari Mahasiswa masa kini.
             
Mahasiswa zaman yang akan datang akan dinaungi Seorang bayi yang baru terlahir di dunia ini. Yang pada dasarnya tidak dalam keadaan kosong seperti  sebuah Gelas. Namun ia sudah memiliki potensi dan kecenderungan tertentu yang apabila di dukung oleh lingkungan yang positif, maka ia akan berkembang sesuai dengan potensinya tersebut.  Untuk  itu sebagai mahasiswa kita wajib Berargumen dan beropini untuk masa depan Mahasiswa yang enerjik. Salam Mahasiswa! Hidup MAHASISWA....!



















referensi

1 comment:

  1. mahasiswa, masa depan bangsa :D
    nice post

    ReplyDelete