Cari Apa

Thursday, April 14, 2011

ISTRI BERNYAWA TIGA

Share it Please

“Tak ada yang bisa memisahkan Kita, waktupun takkan tega Kau dan Aku bersama selamanya!”. Sangat benar lirik lagu ini kepada seorang Ibu. Ibu bagaikan air ditengah padang pasir. Saya mempunyai kisah pengorbanan seorang perempuan terhadap suami dan anaknya. Yaitu narasi yang berjudul “ISTRI BERNYAWA TIGA”.  
Semuanya tak seindah yang terbayangkan sebelumnya, mimpi-mimpi indah seorang Anak yang ingin menikmati kehidupan layak, damai, tentram, dapat menerima belaian dari Ayah dan Ibunya serta didikan dari keduanya. Tapi semua itu tak dapat dirasakan oleh Riri ketika itu.
Nama lengkapnya adalah Riri putrid agung setya lestari. Seorang  anak tunggal. Dilahirkan dari rahim seorang Ibu yang bernama Sari beliau sangat cantik, serta seorang Ayah bernama Yusri. Diawal pernikahan Sari dan Yusri ternyata ada konflik yang terjadi dalam keluarga mereka. Yusri  pada waktu muda adalah seorang pemabuk, penjudi, dan perampok.
Sari  seorang anak bangsawan yang terbuang karena hamil diluar nikah, dan yang menghamilinya seorang laki-laki yang mempunyai perilaku buruk. Diwaktu itu Sari melarikan diri dan meminta pertanggung jawaban dari Yusri. Dan tanpa rasa berdosa Yusri meninggalkan Sari dalam cucuran air matanya. Dia tanpa beban dan bermabuk-mabukan lagi, dasar orang keparat dan tidak berperikemanusiaan. Riri merasa tak bangga memiliki Ayah seperti dia, tapi disisi lain seorang anak harus berbakti kepada orang tua. Hari pertama Sari tidur diemperan petak-petak pasar, demi cinta dia kepada Yusri. Kata orang cinta itu buta, mungkin karena dibutakan cinta sehingga Sari rela mengasingkan diri dari keluarga demi Yusri.
 Setiap hari Sari menemui Yusri hingga pada akhirnya hati keras Yusri dapat menerimanya. Benar juga kata pepatah “sekeras apapun batu itu, pasti akan hancur juga apabila ditetesi air setiap saat”. Selepas menikah dengan Yusri, Sari bermaksud untuk membuka warung-warung kecil dari bekal perhiasannya. Tapi semuanya itu tak direalisasikan oleh Yusri, dia dengan angkuhnya menjadikan perhiasan tersebut seolah-olah modal dia untuk berjudi.
Tak ada manusia yang sempurna, itulah jargon andalan orang-orang  yang hobbinya berbuat kesalahan, tapi hukum itu tak berlaku lagi bagi Aku. Karena bagiku hidup adalah pilihan. Apakah dia mengambil jalan yang salah maka itulah kesalahannya, dan apakah memilih jalan yang benar berarti itulah kemenangannya.
Hari demi hari dilalui Sari dengan rasa penyesalan yang mendalam. Setiap malam Dia berdoa kepada sang Maha Kuasa, sudah tak dapat terhitung lagi air mata Sari dan tak cukup lagi dunia ini mengurungkan semua niat baik itu. Umur kandungan Sari semakin mendekati masa melahirkan tapi Yusri tak kunjung pulang. Seluruh perhiasan Sari dijadikan modal judi oleh Yusri, dan tak ada lagi untuk biaya persalinan Sari. Sungguh Ibu malang, Ibu sayang.
Diwaktu semua orang merasakan indahnya dialam mimpi, Sari pun meninggalkan rumah dan hijrah ke kota dengan menumpang mobil angkutan sayur dari desa itu. Mobil itu pun bergegas menuju kota, sepanjang perjalanan  Sari merasakan keanehan pada perutnya, mungkin pertanda Anaknya akan segera muncul di dunia ini. Di dalam dinginnya malam itu, Sari memperjuangkan nyawanya dan nyawa Anaknya. Sungguh sangat bangga mempunyai Ibu seperti dia, rela berjuang demi buah hatinya. Sesampainya di kota tujuan, supir itu melajukan mobilnya ke Rumah sakit dan membayar seluruh biaya persalinan.
Keesokan harinya setelah Sari sudah mampu dan sehat kembali, Sari menitipkan Riri si bayi kecil pada seorang perawat. Sari beralasan akan kembali lagi dan ternyata Dia tidak kembali lagi hingga berhari-hari. Riri  cukup merasa marah kepada Sari kenapa meninggalkan Riri ketika itu. Tapi ternyata sebulan kemudian Sari menghampiri perawat tersebut untuk mengambil anaknya yang tersayang yaitu Riri.
Akhirnya Riri dibawah Ibunya ke tempat tinggal yang jauh dari kata layak. Disanalah Riri dibesarkan hingga bertahun-tahun, Sari bekerja sebagai seorang penjual minuman dingin didekat SPBU. Tapi kebahagiaan mereka hanya sampai pada tahun kedua, karena laki-laki yang merusak masa depan Sari muncul dan meminta Sari untuk menerimanya kembali.
Pada saat itulah Mereka hidup bertiga di tempat yang sempit itu. Tak ada istimewa dari kedatangan Yusri, malah hanya membawa kerusakan dan kehancuran keluarga. Walau mengaku telah berubah tapi kelakuannya menjadi-jadi. Hingga warung kecil-kecilan Sari habis dan tak tahu pergi kemana.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, dan akhirnya setahun. Tak ada kabar dari Yusri pada Anak dan Istrinya, Riri pun mulai bersekolah pada waktu itu di salah satu sekolah dasar negeri yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.  Sari beranggapan bahwa segala yang utama adalah pendidikan, tak ada keberhasilan tanpa pendidikan yang baik. Setiap harinya Sari bekerja serabutan dan tidak jualan lagi karena tidak mempunyai modal untuk itu. Sehingga Sari tak mempunyai pendapatan yang tetap.
Suatu hari Riri harus membayar tunggakan SPP selama tiga bulan, tapi Riri merasa berat kepada Ibunya. Namun  tak ada masalah yang harus diselesaikan apabila kita merasa masalah itu adalah sahabat. Tapi sahabat yang baik adalah sahabat yang dapat memberikan sumbangsi kepada kita, dikala semuanya tak ada. Mungkin benar Ibunya adalah sahabat bagi Riri, dia cerminan masa depan yang cerah bagi Riri.
Riri sangat bahagia akan kabaikan Ibunya, Riri tak tahu apa pekerjaan Ibunya yang sebenarnya. Tapi Riri percaya Ibunya pasti mencari rejeki halal untuk kebahagiaan Anaknya. Karena sesuatu yang baik berasal dari yang baik pula. Tak ada halang rintang yang membatasi pendidikan Riri, walaupun harus bekerja keras untuk meraihnya, itulah semangat tekad Ibunya.
Yusri akhirnya pulang bersama penyakit Ginjal. Mungkin itu salah satu teguran dari Tuhan kepada orang yang menyia-nyiakan hidup ini. Tak ada yang Abadi, itulah kehidupan ini. Kadang hidup berada pada bagian atas, kadang di bagian tengah, dan bahkan kadang pada titik bawah sekalipun.
Sejak hari itu Yusri berubah total akan penghargaannya pada hidup ini. Dia mulai rajin shalat dan membaca Ayat suci Alqur’an, setiap malam Ia terbangun untuk menunaikan ibadah. Sari  merasa disinilah letak keesaan Tuhan, karena memberikan kesempatan pada Suaminya untuk berbuat baik sebelum Ia kembali kesisinya.
Hari-hari pun terlewati tanpa adanya perubahan yang mencolok dikeluarga mereka. Akhirnya Mereka berdua membawa Yusri ke rumah sakit untuk pemeriksaan penyakitnya. Tapi biaya pengobatannya tidak tanggung-tanggung mencapai puluhan juta. Sungguh hidup yang susah pada pilihan ini dan tak ada tawar menawar diantara semuanya. Sehingga Sari berniat beralih profesi untuk mendampingi Suaminya dalam memberikan sumbangsi hidup kearah yang lebih baik.
Tanpa sepengetahuan Riri dan suaminya, Sari memangkas rambutnya hingga habis agar dapat bekerja di tempat yang hanya diperuntukkan kepada laki-laki saja. Sungguh pengorbanan besar seorang perempuan yang harus mengurusi Anak dan suaminya, yah benar sekali Dia bernyawa tiga.
Suatu ketika Riri memergoki Ibunya dari belakang. Tak sedikitpun rasa bersedih yang terlintas dari wajah Sari ketika itu. Dan yang sangat menyedihkan adalah Sari bekerja sebagai kuli bangunan. Ibu sayang, Ibu yang malang. Cucuran air mata mengalir, menyaksikan seorang Ibu yang bekerja keras dan rela memangkas rambutnya hingga mirip seorang laki-laki demi menyembuhkan Suaminya dari penyakit. Sungguh pengabdian Perempuan yang tak terkira kesuciannya terhadap Suami dan Anaknya. Luph u moom! Seribu  cinta yang ada di dunia ini, tak akan sebanding dengan kasih sayang dari Ibu. Demi hari kartini…
SEMANGAT IBU INDONESIA!
<KARTINI MASA KINI>
~LUPH U MAMA..~

No comments:

Post a Comment