Cari Apa

Friday, April 22, 2011

Serunya Bollywood dalam : Menyambut datangnya era baru home entertainment LG Cinema 3D TV

<a href="http://www.lgsmart3d.com/" target="_blank"
title="LG Smart Blogger Competition">
<img src="http://lgsmart3d.com/files/2011/04/lg-3dtv.jpg" />
</a>
 
tag to 
LED 3D TV
Cinema 3D TV
Smart TV

Kalau mendengar lagu, “Caiya- caiya- caiya-caiya-caiya-calacaiya-caiya-caiya.” Hum pasti pikiran langsung tertuju sama Briptu Norman Kamaru, ya benar sekali. Walaupun beliau bukan yang pertama kali menyanyikannya tapi aksinya memberikan warna baru pada lagu tersebut. Suatu hal yang menggelitik hatiku ketika kiranya film dari lagu yang fenomenal  itu, kita konsumsi pada sebuah hasil teknologi yang canggih dan terkini.  Bagaimana memberikan gambaran keindahan dan rasa takjub terhadap hadirnya teknologi LGCinema 3D TV yang dipadukan dengan aksi goyangan dari lagu-lagu India.
Dunia yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, dapat serasa berjoget dendang ria bersama tokoh-tokoh selebriti dari bollywood. Dan Agar lebih menghangatkan suasana bollywood ditengah aksi menonton LGCinema 3D TV, saya akan mengenakan pakaian khas India itu. Pasti lebih  menggairahkan nurani untuk berjoget ria. Dan tak tertutup kemungkinan, saya akan mengundang kerabat dan rekan-rekan saya untuk menikmati lahirnya LG Cinema 3D TV ini dirumah saya dan dipadukan dengan makan makanan khas India.
Dan Suatu ketika akan lahir sebuah komunitas baru yang lahir dari LG Cinema 3D TV ini. Kalau berpikiran komunitas partai politik, komunitas penjual asongan, itu adalah salah besar. Tapi komunitas ini adalah komunitas pecinta FILM BOLLYWOOD yang disaksikan melamui LG Cinema 3D TV, dimana setiap minggunya atau akhir pekan komunitas ini akan bertemu untuk menonton dan menikmati suguhan-suguhan ala India. Baik itu makanannya, minumannya, pakaiannya, dan paling memberikan sumbangsi besar adalah FILM dan LG Cinema 3D TV.
Semoga mimpi-mimpi saya ini dapat direalisasikan oleh LG Cinema TV, karena dapat menikmati Film-Film bollywood bersama komunitas pecinta film Bollywood melalui LGCinema 3D TV adalah sebuah harapan terindah.
Continue Reading...

Friday, April 15, 2011

KORAN DI BALIK MIMPI MAHASISWA




          “Caiya caiya caiya caiya calacaiya caiya caiya caiya caiya.” adalah Sebuah lirik lagu yang cukup terkenal belakangan ini. Tapi dibalik semua itu ada media yang melatarbelakangi hingga dapat masuk ke lapisan masyarakat. Salah satu medianya adalah Koran. Setiap pagi Koran disebar kemana-mana dari percetakan ke seluruh penjuru Indonesia ini. Minat baca masyarakat terhadap Koran pun masih menjadi peringkat pertama dibanding media cetak lainnya. Alasan utamanya karena Koran harganya murah dan mampu dicapai seluruh lapisan masyarakat. Tapi bagaimana seharusnya materi Koran itu? Yang paling utama adalah hasil pemikiran kaum-kaum intelek.
Sebagai kaum intelek mahasiswa dituntut agar mampu beropini di Koran karena mahasiswa memiliki fungsi sebagai:
1. Agent of Change, dimana Mahasiswa adalah salah satu harapan suatu bangsa agar bisa berubah ke arah lebih baik. hal ini dikarenakan mahasiswa dianggap memiliki intelek yang cukup bagus dan kematangan berpikir yang cukup luwes.
2.Iron Stock, dimana Mahasiswa adalah generasi penerus bangsa untuk mengganti atau memperkuat generasi yang sudah tua.
3.Moral Force, dimana Mahasiswa harus punya moral yang baik agar bisa merubah bangsa ke arah lebih baik dan juga harus bisa merubah ke arah yang lebih baik jika moral bangsa sudah sangat buruk. baik melalui kritik secara diplomatis ataupun aksi.
4.Social Kontrol, dimana Mahasiswa diupayakan agar mampu mengkritik,memberi saran dan memberi solusi jika keadaan sosial bangsa sudah tidak sesuai dengan cita-cita dan tujuan bangsa.

          Dimana pada masa lalu, Mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tanggal 25 Oktober 1966 yang merupakan hasil kesepakatan sejumlah organisasi yang berhasil dipertemukan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) Mayjen dr. Syarief Thayeb, yakni PMKRI, HMI,PMII,Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Lokal (SOMAL), Mahasiswa Pancasila (Mapancas), dan Ikatan Pers Mahasiswa. Ikatan pers mahasiswa inilah yang memberikan sumbangsi kepada mahasiswa dalam beropini di Koran-koran.
Amat menyenangkan ketika apa yang kita fikirkan dapat dituangkan dalam bentuk tulisan dan dibaca banyak orang. Apalagi jika tulisan itu mampu dibaca secara meluas dan memberikan dampak, meski hanya sedikit, kepada masyarakat. Lebih khusus bagi para mahasiswa, sikap kritis atas berbagai fenomena di sekitar sudah menjadi "kewajiban" yang tak dapat dilepaskan. Sebagai agent of change, mahasiswa harus dapat mengutarakan pendapatnya secara terbuka dengan perspektif objektif yang selalu berpihak pada rakyat. Cara terbaik untuk mahasiswa dalam mengungkapkan pemikiran kritisnya adalah melalui tulisan. Esei opini menjadi sebuah media paling efektif untuk ini. Cukup dua sampai tiga halaman, bahasa populer yang mudah dipahami, dan perspektif yang menarik jadi kelebihan dari esei opini.
Tapi dibalik semua itu mahasiswa memiliki zaman yang berfluktuatif, kadang diatas kadang menengah bahkan dititik terbawah sekalipun. pada zaman dahulu Perilaku Kolektif Mahasiswa dalam Reformasi 1998 Tahun 1998 menjadi satu catatan tersendiri dalam sejarah perubahan di Indonesia. Dilatarbelakangi krisis ekonomi yang berkepanjangan dan berlanjut menjadi krisis multi-dimensi, sebuah usaha perubahan sosial yang dimotori oleh gerakan mahasiswa yang didukung oleh kesadaran bersama dari para mahasiswa. Keadaan ini kemudian berkembang menjadi suatu gerakan bersama yang menuntut perubahan dibeberapa bidang, khususnya system pemerintahan Pertanyaan berikutnya, bagaimana mahasiswa dapat melakukan sebuah gerakan reformasi dalam usaha perubahan sosial? Apakah dengan serta-merta gerakan mahasiswa terbangun? Dalam sosiologi, perilaku kolektif adalah tindakan-tindakan yang tidak terstruktur dan spontan dimana perilaku konvensional (lama) sudah tidak dirasakan tepat atau efektif.
               Gerakan mahasiswa pada tahun 1998-tepatnya bulan Mei-cenderung pada perilaku kerumunan aksi dimana aksi demonstrasi mereka lakukan secara terus menerus dengan mengandalkan mobilisasi massa demi tujuan bersama. Tuntutan gerakan mahasiswa sendiri pada pasca kejatuhan masa Orde Baru cenderung pada perubahan sistem politik dan struktur pemerintahan. Sehingga Mahasiswa dikala itu sangat agresif terhadap pemberitaan terhadap media massa.
pada Zaman modern ini Menjalani 66 tahun usia kemerdekaan bangsa Indonesia masih bergelut dengan berbagai persoalan yang bermuara pada krisis moral dan ketimpangan sosial. Bangsa yang berbobot adalah bangsa yang mampu mempertahankan kepribadian serta sanggup mengevaluasi nila-nilai luhur warisan nenek moyangnya untuk dilestarikan dan dikembangkan selaras dengan proses kemajuan zaman yang selanjutnya dipersiapkan sebagai bekal hidup bagi generasi penerus dalam mempertahankan eksistensi dan martabat bangsanya. Krisis budaya menghantui bangsa kita, kesenjangan antara kesadaran dan perilaku. Akhir-akhir ini kita melihat bahwa kesadaran kemanusiaan mengalami penurunan. Kekerasan, kebrutalan dan sadisme terus terjadi, sepertinya kita tak kuasa menghentikannya. Kita yang sebagai Mahasiswa  sedang sibuk dengan melukai diri sendiri, seremoni menuju penghancuran kemanusiaan. Kita percaya bahwa waktu akan menyembuhkan luka-luka. Akan tetapi kitapun harus berbuat sesuatu agar penyembuhan itu benar-benar terjadi. Layaknya Mahasiswa bangkit untuk mencapai kesuksesan pemerintahan. Karena pemerintahan masa dapan asalnya dari Mahasiswa masa kini.
             
Mahasiswa zaman yang akan datang akan dinaungi Seorang bayi yang baru terlahir di dunia ini. Yang pada dasarnya tidak dalam keadaan kosong seperti  sebuah Gelas. Namun ia sudah memiliki potensi dan kecenderungan tertentu yang apabila di dukung oleh lingkungan yang positif, maka ia akan berkembang sesuai dengan potensinya tersebut.  Untuk  itu sebagai mahasiswa kita wajib Berargumen dan beropini untuk masa depan Mahasiswa yang enerjik. Salam Mahasiswa! Hidup MAHASISWA....!



















referensi
Continue Reading...

Thursday, April 14, 2011

ISTRI BERNYAWA TIGA


“Tak ada yang bisa memisahkan Kita, waktupun takkan tega Kau dan Aku bersama selamanya!”. Sangat benar lirik lagu ini kepada seorang Ibu. Ibu bagaikan air ditengah padang pasir. Saya mempunyai kisah pengorbanan seorang perempuan terhadap suami dan anaknya. Yaitu narasi yang berjudul “ISTRI BERNYAWA TIGA”.  
Semuanya tak seindah yang terbayangkan sebelumnya, mimpi-mimpi indah seorang Anak yang ingin menikmati kehidupan layak, damai, tentram, dapat menerima belaian dari Ayah dan Ibunya serta didikan dari keduanya. Tapi semua itu tak dapat dirasakan oleh Riri ketika itu.
Nama lengkapnya adalah Riri putrid agung setya lestari. Seorang  anak tunggal. Dilahirkan dari rahim seorang Ibu yang bernama Sari beliau sangat cantik, serta seorang Ayah bernama Yusri. Diawal pernikahan Sari dan Yusri ternyata ada konflik yang terjadi dalam keluarga mereka. Yusri  pada waktu muda adalah seorang pemabuk, penjudi, dan perampok.
Sari  seorang anak bangsawan yang terbuang karena hamil diluar nikah, dan yang menghamilinya seorang laki-laki yang mempunyai perilaku buruk. Diwaktu itu Sari melarikan diri dan meminta pertanggung jawaban dari Yusri. Dan tanpa rasa berdosa Yusri meninggalkan Sari dalam cucuran air matanya. Dia tanpa beban dan bermabuk-mabukan lagi, dasar orang keparat dan tidak berperikemanusiaan. Riri merasa tak bangga memiliki Ayah seperti dia, tapi disisi lain seorang anak harus berbakti kepada orang tua. Hari pertama Sari tidur diemperan petak-petak pasar, demi cinta dia kepada Yusri. Kata orang cinta itu buta, mungkin karena dibutakan cinta sehingga Sari rela mengasingkan diri dari keluarga demi Yusri.
 Setiap hari Sari menemui Yusri hingga pada akhirnya hati keras Yusri dapat menerimanya. Benar juga kata pepatah “sekeras apapun batu itu, pasti akan hancur juga apabila ditetesi air setiap saat”. Selepas menikah dengan Yusri, Sari bermaksud untuk membuka warung-warung kecil dari bekal perhiasannya. Tapi semuanya itu tak direalisasikan oleh Yusri, dia dengan angkuhnya menjadikan perhiasan tersebut seolah-olah modal dia untuk berjudi.
Tak ada manusia yang sempurna, itulah jargon andalan orang-orang  yang hobbinya berbuat kesalahan, tapi hukum itu tak berlaku lagi bagi Aku. Karena bagiku hidup adalah pilihan. Apakah dia mengambil jalan yang salah maka itulah kesalahannya, dan apakah memilih jalan yang benar berarti itulah kemenangannya.
Hari demi hari dilalui Sari dengan rasa penyesalan yang mendalam. Setiap malam Dia berdoa kepada sang Maha Kuasa, sudah tak dapat terhitung lagi air mata Sari dan tak cukup lagi dunia ini mengurungkan semua niat baik itu. Umur kandungan Sari semakin mendekati masa melahirkan tapi Yusri tak kunjung pulang. Seluruh perhiasan Sari dijadikan modal judi oleh Yusri, dan tak ada lagi untuk biaya persalinan Sari. Sungguh Ibu malang, Ibu sayang.
Diwaktu semua orang merasakan indahnya dialam mimpi, Sari pun meninggalkan rumah dan hijrah ke kota dengan menumpang mobil angkutan sayur dari desa itu. Mobil itu pun bergegas menuju kota, sepanjang perjalanan  Sari merasakan keanehan pada perutnya, mungkin pertanda Anaknya akan segera muncul di dunia ini. Di dalam dinginnya malam itu, Sari memperjuangkan nyawanya dan nyawa Anaknya. Sungguh sangat bangga mempunyai Ibu seperti dia, rela berjuang demi buah hatinya. Sesampainya di kota tujuan, supir itu melajukan mobilnya ke Rumah sakit dan membayar seluruh biaya persalinan.
Keesokan harinya setelah Sari sudah mampu dan sehat kembali, Sari menitipkan Riri si bayi kecil pada seorang perawat. Sari beralasan akan kembali lagi dan ternyata Dia tidak kembali lagi hingga berhari-hari. Riri  cukup merasa marah kepada Sari kenapa meninggalkan Riri ketika itu. Tapi ternyata sebulan kemudian Sari menghampiri perawat tersebut untuk mengambil anaknya yang tersayang yaitu Riri.
Akhirnya Riri dibawah Ibunya ke tempat tinggal yang jauh dari kata layak. Disanalah Riri dibesarkan hingga bertahun-tahun, Sari bekerja sebagai seorang penjual minuman dingin didekat SPBU. Tapi kebahagiaan mereka hanya sampai pada tahun kedua, karena laki-laki yang merusak masa depan Sari muncul dan meminta Sari untuk menerimanya kembali.
Pada saat itulah Mereka hidup bertiga di tempat yang sempit itu. Tak ada istimewa dari kedatangan Yusri, malah hanya membawa kerusakan dan kehancuran keluarga. Walau mengaku telah berubah tapi kelakuannya menjadi-jadi. Hingga warung kecil-kecilan Sari habis dan tak tahu pergi kemana.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, dan akhirnya setahun. Tak ada kabar dari Yusri pada Anak dan Istrinya, Riri pun mulai bersekolah pada waktu itu di salah satu sekolah dasar negeri yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.  Sari beranggapan bahwa segala yang utama adalah pendidikan, tak ada keberhasilan tanpa pendidikan yang baik. Setiap harinya Sari bekerja serabutan dan tidak jualan lagi karena tidak mempunyai modal untuk itu. Sehingga Sari tak mempunyai pendapatan yang tetap.
Suatu hari Riri harus membayar tunggakan SPP selama tiga bulan, tapi Riri merasa berat kepada Ibunya. Namun  tak ada masalah yang harus diselesaikan apabila kita merasa masalah itu adalah sahabat. Tapi sahabat yang baik adalah sahabat yang dapat memberikan sumbangsi kepada kita, dikala semuanya tak ada. Mungkin benar Ibunya adalah sahabat bagi Riri, dia cerminan masa depan yang cerah bagi Riri.
Riri sangat bahagia akan kabaikan Ibunya, Riri tak tahu apa pekerjaan Ibunya yang sebenarnya. Tapi Riri percaya Ibunya pasti mencari rejeki halal untuk kebahagiaan Anaknya. Karena sesuatu yang baik berasal dari yang baik pula. Tak ada halang rintang yang membatasi pendidikan Riri, walaupun harus bekerja keras untuk meraihnya, itulah semangat tekad Ibunya.
Yusri akhirnya pulang bersama penyakit Ginjal. Mungkin itu salah satu teguran dari Tuhan kepada orang yang menyia-nyiakan hidup ini. Tak ada yang Abadi, itulah kehidupan ini. Kadang hidup berada pada bagian atas, kadang di bagian tengah, dan bahkan kadang pada titik bawah sekalipun.
Sejak hari itu Yusri berubah total akan penghargaannya pada hidup ini. Dia mulai rajin shalat dan membaca Ayat suci Alqur’an, setiap malam Ia terbangun untuk menunaikan ibadah. Sari  merasa disinilah letak keesaan Tuhan, karena memberikan kesempatan pada Suaminya untuk berbuat baik sebelum Ia kembali kesisinya.
Hari-hari pun terlewati tanpa adanya perubahan yang mencolok dikeluarga mereka. Akhirnya Mereka berdua membawa Yusri ke rumah sakit untuk pemeriksaan penyakitnya. Tapi biaya pengobatannya tidak tanggung-tanggung mencapai puluhan juta. Sungguh hidup yang susah pada pilihan ini dan tak ada tawar menawar diantara semuanya. Sehingga Sari berniat beralih profesi untuk mendampingi Suaminya dalam memberikan sumbangsi hidup kearah yang lebih baik.
Tanpa sepengetahuan Riri dan suaminya, Sari memangkas rambutnya hingga habis agar dapat bekerja di tempat yang hanya diperuntukkan kepada laki-laki saja. Sungguh pengorbanan besar seorang perempuan yang harus mengurusi Anak dan suaminya, yah benar sekali Dia bernyawa tiga.
Suatu ketika Riri memergoki Ibunya dari belakang. Tak sedikitpun rasa bersedih yang terlintas dari wajah Sari ketika itu. Dan yang sangat menyedihkan adalah Sari bekerja sebagai kuli bangunan. Ibu sayang, Ibu yang malang. Cucuran air mata mengalir, menyaksikan seorang Ibu yang bekerja keras dan rela memangkas rambutnya hingga mirip seorang laki-laki demi menyembuhkan Suaminya dari penyakit. Sungguh pengabdian Perempuan yang tak terkira kesuciannya terhadap Suami dan Anaknya. Luph u moom! Seribu  cinta yang ada di dunia ini, tak akan sebanding dengan kasih sayang dari Ibu. Demi hari kartini…
SEMANGAT IBU INDONESIA!
<KARTINI MASA KINI>
~LUPH U MAMA..~

Continue Reading...